15 Mei 2008

Pemanasan Global

Para Ahli Spesialis Penyakit Anak memperingatkan akan bahaya pemanasan global pada anak-anak Oleh : Jennifer Warner

Menurut laporan yang terbaru, efek dari pemanasan global dapat terkena langsung terutama pada anak-anak dan ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk melindungi kesehatannya ketika terjadi peningkatan suhu.

American Academy of Pediatric (AAP) mengakui adanya akibat pemanasan global pada kesehatan anak-anak dan membangun strategi untuk melindungi mereka dari potensi kerusakan.

Diluar kenaikan resiko panas terkait dengan kondisi seperti stroke panas dan dehidrasi, para peneliti mengatakan pemanasan global memperburuk penyakit-penyakit umum yang terjadi pada anak-anak seperti asma dan alergi. Selain itu anak-anak juga mempunyai resiko kehilangan orang tua atau pengasuh dalam kaitan dengan kondisi cuaca yang ekstrem.

Pemanasan Global Melukai Anak-anak

Berdasarkan laporan beberapa kelompok, beberapa contoh dari akibat pemanasan global pada kesehatan anak diantaranya :

  • Meningkatnya kerentanan pada luka atau kematian, stress paska trauma, kehilangan pengasuh, mengganggu pendidikan dan pergeseran sebagai akibat dari bencana yang ditimbulkan oleh cuaca seperti banjir, angin topan dan kekeringan.
  • Kerusakan pada fungsi paru-paru dan pertumbuhan dalam kaitan dengan meningkatnya polusi udara
  • Peningkatan penyakit waterborne dan food-borne, termasuk infeksi diare akibat kenaikan suhu dan gangguan dalam suplai makanan
  • Peningkatan dalam penularan penyakit melalui nyamuk dan kutu/tungau, seperti virus West Nile, malaria, dan penyakit “Lyme”
  • Peningkatan penyerapan dan mudah terkena luka karena panas, terkait dengan kondisi seperti serangan panas (heat stroke) dan kelelahan akibat panas (heat exhaustion).

Para peneliti mengatakan bahwa kesehatan anak-anak paling peka terhadap semua akibat bahaya lingkungan.

Beberapa kelompok mendorong para ahli spesialis anak untuk menjadi contoh dalam meminimalkan efek rumah kaca dan emisi gas terkait dengan pemanasan global dengan membuat suatu perubahan seperti penggunaan lampu pijar, mengurangi penggunaan alat pengatur panas di musim dingin, dan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor.

Sumber : http://children.webmd.com/news

Berbagai Pertanyaan tentang

  • Pendahuluan
  • Apakah yang dimaksud dengan efek rumah kaca, dan apakah efek rumah kaca dapat mempengaruhi iklim kita?
  • Apakah jumlah gas yang dihasilkan efek rumah kaca terus meningkat jumlahnya?
  • Apakah iklim menjadi semakin panas?
  • Apakah El Niño berhubungan dengan pemanasan global?
  • Apakah terjadi perubahan pada siklus hidrologis (penguapan dan curah hujan)?
  • Apakah terjadi perubahan pada sirkulasi atmosfer/lautan?
  • Apakah terjadi perubahan iklim yang lebih ekstrem dan lebih bervariasi?
  • Seberapa pentingnya perubahan-perubahan ini dalam konteks jangka panjang?
  • Apakah terjadi peningkatan pada tinggi permukaan laut?
  • Apakah perubahan yang telah diamati dapat dijelaskan menggunakan dengan faktor variabilitas alami?
  • Apa yang akan terjadi di masa depan?
  • Informasi tambahan

Semua angka yang ada di halaman ini kecuali temperatur permukaan secara global dikutip dari laporan IPCC 2001 ’Perubahan Iklim 2001: Dasar-dasar keilmuan.”

Pendahuluan

Tulisan halaman ini dibuat berdasarkan ikhtisar pendek dari laporan tahun 2001 yang dibuat oleh Kelompok Diskusi Antar-negara Mengenai Perubahan Iklim dan laporan tahun 2001 dari Badan Riset Nasional mengenai Pengetahuan mengenai Perubahan Iklim: Sebuah Analisis tentang Beberapa Pertanyaan Kunci, juga sumber-sumber data dari NCDC sendiri. Tulisan ini dibuat oleh David Easterling dan Tom Karl, dari Pusat Data Iklim Nasional, Asheville, N.C. 28801.
Salah satu topik yang paling hangat diperdebatkan di dunia adalah masalah perubahan iklim, dan pusat-pusat data dari Layanan Satelit, Data dan Informasi Lingkungan Nasional (National Environmental Satellite, Data, and Information Service – NESDIS) merupakan pusat untuk menjawab beberapa pertanyaan yang paling mendesak yang masih saja belum bisa dijelaskan mengenai perubahan cuaca. Pusat Data Iklim Nasional memiliki catatan-catatan pendukung yang dapat secara tepat menjabarkan sifat-sifat alami fluktuasi iklim dalam jangka waktu hingga satu abad lamanya. Berbagai jenis variasi data yang disumbangkan pada NCDC berasal dari: Kapal-kapal, pelampung, stasiun cuaca, balon cuaca, satelit, dan pesawat udara. Pusat Data Oseanografis Nasional (National Oceanographic Data Center) memiliki data bawah laut yang dapat mengungkapkan bagaimana cara panas didistribusikan dan diredistribusikan kembali di sekeliling planet ini.
Dengan mengetahui bagaimana perubahan yang tengah dialami dan telah dialami oleh sistem ini di masa lalu, sangat penting untuk dapat memahami bagaimana perubahan yang akan dialami di masa mendatang. Dan, untuk mendapatkan informasi mengenai iklim yang berlangsung selama ratusan hingga ribuan tahun, program paleoklimatologi, yang juga ada di Pusat Data Iklim Nasional, dapat membantu untuk menghadirkan sudut pandang dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Secara internasional, Kelompok Diskusi Antar-negara Mengenai Perubahan Iklim (Intergovernmental Panel on Climate Change – IPCC), yang berada di bawah naungan PBB, Organisasi Meterologi Dunia (World Meteorological Organization – WMO), dan Program Lingkungan PBB (United Nations Environment Program – UNEP), adalah badan paling tua dan paling memiliki otoritas untuk menyediakan nasihat-nasihat ilmiah pada para pembuat kebijakan secara global. IPCC mengadakan pertemuan lengkap pada tahun 1990, 1995, dan 2001. Mereka membahas isu-isu seperti meningkatnya gas yang dihasilkan oleh efek rumah kaca, bukti-bukti, penyebab, dan prediksi mengenai perubahan iklim, akibat dari perubahan iklim, dan pilihan-pilihan kebijakan.
Di bawah ini terdapat sejumlah pertanyaan yang biasa diajukan pada para peneliti iklim, dan jawaban-jawaban pendek (berdasarkan laporan dari IPCC dan riset yang lainnya) dalam bahasa awam yang mudah dipahami. Daftar ini akan diperbarui secara periodik, bila ada bukti-bukti ilmiah baru yang ditemukan.

Apakah yang dimaksud dengan efek rumah kaca, dan apakah efek rumah kaca dapat mempengaruhi iklim kita?

Efek rumah kaca adalah suatu hal yang kebenarannya tidak diragukan lagi dan efek ini membantu mengatur suhu di planet kita. Efek ini penting bagi kehidupan di Bumi dan merupakan salah satu proses alami yang terjadi di Bumi. Efek rumah kaca merupakan hasil dari penyerapan energi oleh gas-gas tertentu yang terdapat di atmosfer (disebut gas rumah kaca karena gas-gas ini secara efektif ‘menangkap’ panas yang terdapat di atmosfer bagian bawah) dan meradiasikan kembali sebagian dari panas tersebut ke bawah.
Uap air adalah unsur terbanyak yang terdapat dalam gas rumah kaca, diikuti oleh karbon dioksida dan gas-gas lainnya. Tanpa adanya efek rumah kaca yang alami, suhu di permukaan bumi akan berada pada angka no derajat F (-18˚C) bukan seperti suhu saat ini yaitu 57˚F (14˚C). Jadi, kekhawatiran bukan terletak pada fakta tentang adanya efek rumah kaca, namun apakah aktivitas manusia menyebabkan terjadinya peningkatan efek rumah kaca ini.

Apakah jumlah gas yang dihasilkan efek rumah kaca terus meningkat jumlahnya?

Aktivitas manusia telah meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca dalam atmosfer (sebagian besar berupa karbon dioksida yang berasal dari pembakaran batu bara, minyak, dan gas; ditambah gas-gas lainnya). Tidak ada debat ilmiah mengenai hal ini. Tingkat karbon dioksida sebelum masa industri (sebelum Revolusi Industri dimulai) adalam sekitar 280 ppmv, dan tingkat karbon dioksida saat ini adalam sekitar 370 ppmv. Konsentrasi CO2 dalam atmosfer kita saat ini, belum pernah meningkat selama 420.000 tahun, dan kemungkinan besar tidak akan berubah dalam 20 juta tahun terakhir. Berdasarkan laporan khusus dari IPCC mengenai skenario emisi (Special Report on Emission Scenarios –SRES), di akhir abad ke 21, kita bisa melihat adanya konsentrasi karbon dioksida sebesar 490 – 1260 ppm (75 – 350% di atas angka konsentrasi di masa pra industri.

Apakah Iklim menjadi semakin panas?

Ya. Temperatur permukaan secara global meningkat sebesar kurang lebih 0.6°C (kurang atau lebih 0.2°C) sejak akhir abad 19, dan sekitar 0.4°F (0.2 hingga 0.3°C) sepanjang 25 tahun terakhir (periode ini memiliki data yang paling akurat). Pemananasan bukanlah sesuatu yang seragam secara global. Beberapa wilayah (termasuk sebagian dari Amerika Serikat bagian tenggara), pada kenyataannya, menjadi semakin dingin sepanjang satu abad terakhir. Peningkatan panas paling besar dialami oleh Amerika Utara dan Eurasia di antara 40 dan 70°LU. Pemanasan, yang dibantu dengan adanya catatan El Niño sepanjang tahun 1997-1998, dan terus meningkat hingga saat ini, dimana tahun 2001 menjadi tahun terpanas kedua setelah tahun 1998.
Trend secara linear dapat sangat bervariasi tergantung pada periode saat penghitungan. Trend suhu pada atmosfer bagian bawah (di antara 2.500 dan 26.000 kaki) dari tahun 1979 hingga saat ini, merupakan sebuah periode dimana terdapata unit data dari Microwave Satellite, sangatlah kecil dan mungkin tidak representatif untuk mewakili tren dengan masa yang lebih panjang dan trend yang lebih dekat dengan permukaan. Lebih jauh lagi ada perbedaan kecil yang belum dapat di diperbaiki du abtara radiosonde dan observasi satelit mengenai temperatur di troposfer, meskipun kedua sumber data tersebut menunjukkan sedikit adanya tred pemanasan.
Bila kita melakukan kalkulasi terhadap tren berdasarkan data radiosonde yang mulai dicatat sejak tahun 1950an, terlihat pemanasan yang sedikit lebih tinggi dalam catatannya karena adanya peningkatan di tahun 1970an. Ada alasan-alasan fisik dan statistik (misalnya, masa pencatatan yang terlalu pendek, perbedaan efek sementara terhadap aktivitas vulkanis dan El Niño, serta efek-efek lapisan perbatasan) sehingga kita bisa melihat perbedaan di antara tren yang terjadi baru-baru ini pada suhu di lapisan troposfer bagian permukaan dan di bagian bawah, namun alasan-alasan pasti tentang terjadinya perbedaan ini masih terus diselidiki (lihat laporan Badan Riset Nasional “Merekonsiliasi Hasil Observasi terhadap Perubahan Iklim secara Global”).
Sebuah efek rumah kaca yang diperkuat diperkirakan menyebabkan terjadinya pendinginan di bagian atmosfer yang lebih tinggi karena adanya peningkatan efek “selimut” di bagian bawah atmosfer menyimpan panas yang lebih banyak, menyebabkan lebih sedikit panas yang dapat mencapai atmosfer bagian atas. Pendinginan di stratosfer bagian bawah (sekitar 49.000 – 79.500 kaki) sejak tahun 1979 ditunjukkan oleh data dari Unit Microwave Sounding dan data radiosonde, namun angka lebih besar ditunjukkan oleh data radiosonde.
Suhu permukaan dan troposfer yang relatif lebih dingin, dan suhu stratosfer bagian bawah yang relatif lebih hangat, diamati pada tahun 1992 dan 1993, menyusul meletusnya Gunung Pinatubo pada tahun 1991. Pemanasan muncul kembali pada tahun 1994. Sebuah pemanasan secara global yang dramatis, setidaknya sebagian dihubungkan dengan adanya catatan El Niño, terjadi pada tahun 1998. Episode pemanasan ini direfleksikan dari permukaan hingga di bagian atas troposfer.
Ada kecenderungan secara umum, namun bukan kecenderungan global, terhadap pengurangan diurnal temperature range (DTR), (perbedaan tinggi rendahnya temperatur harian) di sekitar 50% dari wilayah daratan secara global sejak pertengahan abad 20. Liputan awan semakin meningkat di banyak wilayah sementara DTR semakin berkurang. Tren positif secara keseluruhan untuk suhu harian maksimum sepanjang masa pengamatan (1950-1993) adalah 0.1°C/dekade, sementara tren untuk suhu minimum harian adalah 0.2°C/dekade. Hasil ini merupakan gambaran tren negatif dalam DTR yaitu -0.1°C/dekade.
Indikator tidak langsung atas terjadinya pemanasan seperti temperatur yang semakin panas, lapisan es, dan data berkurangnya sungai es (glacier), secara substansial mendukung data lain yang lebih langsung mengenai suhu yang semakin memanas belakangan ini. Bukti-bukti seperti perubahan panjang sungai es, sangat berguna karena tidak hanya memberikan dukungan kualitatif terhadap data meteorologi yang sudah ada, namun sungai es terkadang berada di tempat-tempat yang terlalu terpencil untuk dapat mendukung stasiun-stasiun meteorologi, catatan makin bertambah atau berkurangnya sungai es seringkali jauh lebih panjang daripada apa yang tercatat di stasiun cuaca, dan sungai es biasanya berada pada ketinggian yang lebih jauh lebih tinggi sehingga stasiun cuaca dapat memberikan kita lebih banyak data mengenai perubahan di tempat-tempat yang lebih tinggi di atmosfer.
Pengukuran dalam skala besar terhadap lautan es hanya dapat dilakukan pada era satelit, namun dengan melihat pada angka-angka yang terdapat pada perkiraan berbagai satelit yang berbeda, kita dapat melihat bahwa wilayah Samudera Arktik mengalami pengurangan antara tahun 1973 dan 1996 dengan kecepatan -2.8 +/- 0.3%/dekade. Meskipun hal ini kelihatannya berhubungan dengan peningkatan suhu secara umum pada periode yang sama, ada banyak siklus-kuasi dinamika atmosfer (misalnya Arctic Oscillation) yang juga dapat mempengaruhi ketebalan lautan es di Arktik. Lautan es di Antartika menunjukkan sedikit sekali tren pada periode yang sama, atau bahkan mengalami sedikit peningkatan sejak tahun 1979. Meskipun catatan mengenai lautan es di Antartika di tahun-tahun yang lampau sangat sulit untuk didapatkan karena tidak adanya pengamatan secara langsung di belahan bumi ini.

Apakah El Niño berhubungan dengan pemanasan global?

El Niño bukan disebabkan oleh pemanasan global. Bukti-bukti yang didapatkan dari berbagai sumber (termasuk penelitian arkeologi) memperlihatkan bahwa El Niño sudah ada selama beratus-ratus tahun, bahkan ada indikator yang menyebutkan kemungkinan keberadaannya selama jutaan tahun.
Namun diperkirakan bahwa suhu permukaan laut yang semakin hangat dapat memperkuat fenomena El Niño, dan benar juga bahwa El Niño terjadi lebih sering dan lebih dasyat dalam beberapa dekade belakangan ini. Hasil percobaan model iklim yang merupakan simulasi dari abad 21 dengan peningkatan gas-gas rumah kaca menunjukkan bahwa pola suhu permukaan laut yang mirip seperti El Niño di Samudera Pasifik bagian tropis kemungkinan akan lebih kuat.

Apakah terjadi perubahan pada siklus hidrologis (penguapan dan curah hujan)?

Secara umum, curah di daratan di seluruh dunia meningkat sekitar ~2% sejak tahun 1900, namun demikian, perubahan curah hujan terjadi secara bervariasi selama seabad belakangan ini. Catatan instrumental menunjukkan bahwa ada peningkatan secara umum pada curah hujan sebesar sekitar 0.5-1.0%/dekade pada daratan di wilayah utara dengan ketinggian menengah ke atas, kecuali sebagian Rusia bagian timur. Namun demikian, ada penurunan sekitar -0.3%/dekade pada curah hujan yang terjadi sepanjang abad 20 di wilayah daratan yang berada pada ketinggian sub-tropis, meskipun tren ini semakin melemah pada dekade-dekade belakangan ini.
Karena adanya kesulitan dalam mengukur curah hujan, penting sekali untuk memberikan dukungan data terhadap pengamatan ini dengan menganalisis variabel lain yang berhubungan. Perubahan yang dapat diukur pada curah hujan akan secara konsisten sama dengan perubahan pada aliran arus, tinggi danau, dan kelembaban tanah (dimana data bisa dilihat dan telah dianalisis).
Luas lapisan es di Wilayah Kutub Utara yang diukur setiap tahunnya secara konsisten berada di bawah rata-rata sejak tahun 1987, dan mengalami penurunan sekitar 10% sejak tahun 1966. Hal ini sebagian besar terjadi karena berkurangnya hujan salju pada musim semi dan musim panas di wilayah Eurasia dan Amerika Utara sejak pertengahan 1980an. Namun demikian, lapisan salju di musim hujan dan musim gugur menunjukkan tidak adanya tren yang signifikan di wilayah kutub utara pada periode yang sama.
Data satelit yang semakin bagus menunjukkan bahwa tren umum peningkatan jumlah liputan awan bak di daratan maupun lautan sejak awal 1980an, mengalami penurunan pada awal 1990an, dan jumlah total liputan awan di daratan dan lautan saat ini kelihatannya semakin berkurang. Namun demikian, ada beberapa penelitian yang menunjukkan ketebalan awan secara regional, mungkin terutama pada awan-awan hujan yang tebal, mengalami peningkatan pada abad 20.

Apakah terjadi perubahan pada sirkulasi atmosfer/lautan?

Sebuah perubahan yang agak tiba-tiba pada perilaku El Niño – South Oscillation terjadi pada sekitar tahun 1976/77 dan perilaku ini terus berlangsung hingga sekarang. El Niño lebih sering terjadi dan lebih dasyat daripada La Niña yang lebih dingin. Perilaku yang sangat di luar kebiasaan terjadi dalam 120 tahun terakhir (periode dimana terdapat catatan instrumental). Perubahan pada curah hujan di wilayah Pasifik tropis berhubungan dengan perubahan pada El Niño – South Oscillation, yang juga mempengaruhi pola dan kekuatan temperatur di permukaan. Namun demikian, tidak jelas apakan perubahan yang jelas sekali terlihat pada siklus ENSO ini disebabkan oleh pemanasan secara global.

Apakah terjadi perubahan iklim yang lebih ekstrem dan lebih bervariasi?

Dalam skala global hanya ada sedikit bukti adanya tren panjang dalam ekstrimitas dan variabilitas iklim. Ini mungkin menunjukkan adanya ketidak cukupan data dan analisis. Namun demikian dalam skala regional, ada bukti yang jelas adanya perubahan pada variabilitas dan ekstrimitas. Di wilayah-wilayah dimana terjadi kekeringan atau musim penghujan yang berkepanjangan biasanya diikuti adanya El Niño, kekeringan atau kebasahan ini biasanya terasa lebih intense pada tahun-tahun belakangan. Di luar wilayah ini, hanya sedikit bukti yang tersedia mengenai perubahan pada frekuensi atau intensitas kekeringan.
Di beberapa wilayah dimana secara keseluruhan curah hujan mengalami peningkatan (misalnya, di wilayah utara dengan ketinggian menengah hingga tinggi), ada bukti mengenai peningkatan terjadinya curah hujan yang lebih lebat dan lebih ekstrim. Bahwa di wilayah-wilayah seperti Asia selatan, ditemukan peningkatan jumlah curah hujan yang ekstrim meskipun secara total curah hujan tetap konstan atau bahkan terjadi penurunan. Hal ini berhubungan dengan penurunan pada frekuensi curah hujan di wilayah ini.
Banyak penelitian individual di berbagai wilayah yang menunjukkan bahwa aktivitas siklon ekstra tropis kelihatannya mengalami peningkatan sepangjang pertengahan abad 20 di kutub utara, namun mengalami penurunan di wilayah kutub selatan. Tidak jelas apakah tren ini merupakan fluktuasi multi-dekade atau bagian dari tren yang lebih panjang lagi.
Menurut data yang terpercaya, frekuensi dan intensitas badai tropis tidak menunjukkan adanya tren jangka panjang yang signifikan di basin manapun. Kelihatannya sedang terjadi fluktuasi dekade-interdekade, namun tidak ada data yang secara konsklusif menunjukkan adanya komponen termin yang lebih panjang. Ekstrimitas suhu secara global tidak menunjukkan adanya tren yang signifikan dalam variabilitas dari tahun ke tahun, namun beberapa penelitian menunjukkan adanya penurunan signifikan pada variabilitas dalam satu tahun. Ada tren yang lebih jelas menurunnya suhu rendah minimum pada beberapa wilayah yang berjauhan dalam beberapa dekade belakangan. Perubahan signifikan tentang suhu tinggi ekstrim yang tersebar di beberapa wilayah yang berjauhan tidak diamati. Ada beberapa indikasi adanya penurunan variabilitas suhu harian di beberapa dekade belakangan.

Seberapa pentingnya perubahan-perubahan ini dalam konteks jangka panjang?

Data paleoklimatik sangat penting untuk membuat kita dapat memperluas pengetahuan mengenai variabilitas iklim di luar apa yang telah diukur oleh peralatan modern. Banyak fenomena alamiah yang sangat bergantung pada iklim (seperti misalnya tingkat pertumbuhan sebuah pohon), dan sebagainya, menyediakan ‘catatan’ alamiah mengenai informasi iklim. Beberapa data paleoklimatik dapat ditemukan pada berbagai sumber seperti lingkaran pada pohon, inti es, batu-batuan, sedimentasi pada danau (termasuk fosil serangga dan data pollen), speleothems (skalaktit dan sebagainya), dan sedimentasi laut.
Beberapa data ini, termasuk inti es dan lingkaran pada pohon memberikan juga sebuah catatan kronologis mengenai bagaimana mereka terbentuk secara alami, dan sehingga rekonstruksi iklim yang beresolusi tinggi dapat dilakukan berdasarkan catatan-catatan ini. Namun demikian, tidak ada ‘jaringan’ yang komprehensif pada data paleoklimatik seperti yang ada pada data liputan instrumental, sehingga rekonstruksi iklim secara global seringkali sulit untuk didapatkan. Namun, menggabungkan catatan-catatan berbagai tipe paleoklimatik yang berbeda bisa membuat kita mengembangkan sebuah gambaran yang hampir global mengenai perubahan iklim di masa lalu.
Untuk suhu musim panas di Kutub Utara, beberapa dekade terakhir kelihatannya adalah suhu terhangat sejak setidaknya 1000M, dan pemanasan sejak akhir abad 19 belum pernah terjadi dalam 1000 tahun terakhir. Data yang lebih tua tidak cukup untuk memberikan estimasi suhu wilayah yang akurat. Data pada inti es menunjukkan bahwa pada abad 20 suhu cukup hangat di berbagai belahan dunia, namun juga pentingnya pemanasan berbeda secara geografis, bila dilihat dalam konteks variasi iklim pada milenium terakhir.
Perubahan yang besar dan cepat pada iklim mengubah sirkulasi atmosfer dan lautan serta suhu, dan juga siklus hidrologis, terjadi sepanjang jaman es terakhir dan sepanjang masa transisi menuju periode Holocene (yang terjadi sekitar 10.000 tahun yang lalu). Berdasarkan bukti tidak lengkap yang ada, perubahan diproyeksikan akan berubah dari 3 hingga 7°F (1,5 - 4°C) sepanjang abad yang akan datang akan menjadi sesuatu yang luar biasa dibandingkan dengan catatan terbaik yang ada dari beberapa ribu tahun yang lalu.

Apakah terjadi peningkatan pada tinggi permukaan laut?

Secara global tinggi permukaan laut mengalami peningkatan sebesar 1 hingga 2 mm/tahun sepanjang 100 tahun terakhir, yang secara signifikan merupakan angka yang lebih besar dibandingkan dengan angka rata-rata sepanjang beberapa ribu tahun belakangan. Proyeksi peningkatan dari tahun 1990-2100 adalah sebesar 0,09-0,88 meter, bergantung pada skenario rumah kaca mana yang digunakan dan berbagai ketidak pastian secara fisik yang menyebabkan terjadinya peningkatan tinggi permukaan laut dari berbagai sumber air baik yang beku maupun tidak beku.

Apakah perubahan yang telah diamati dapat dijelaskan menggunakan dengan faktor variabilitas alami?

Karena sistem iklim kita secara fundamental didorong oleh adanya energi dari matahari, maka bisa dipastikan bahwa bila energi matahari mengalami perubahan, maka iklim juga akan mengalami perubahan. Sejak adanya pengukuran melalu media luar angkasa pada akhir tahun 1970an, energi yang keluar dari matahari memang menunjukkan adanya variasi. Kelihatan ini merupakan penegasan dari dugaan sebelumnya mengenai adanya siklus 11 (dan 22) tahun radiasi.
Namun, dengan hanya 20 tahun pengukuran yang akurat, sulit untuk menyimpulkan sebuah tren. Akan tetapi, dari catatan pendek yang kita miliki sejauh ini, tren iradiasi matahari diperkirakan sekitar ~0,09 W/m2 dibandingkan dengan 0.4 W/m2 dari gas rumah kaca yang tercampur dengan baik. Ada banyak indikasi bahwa matahari juga memiliki variasi dengan periode lebih panjang yang berpotensi menyebabkan tingkat yang lebih tinggi dalam skala abad. Namun, ada juga ketidak pastian yang cukup besar dalam memperkirakan iradiasi matahari di luar apa yang dapat diukur oleh satelit, dan kontribusi dari iradiasi matahari secara langsung lebih kecil daripada komponen dari efek rumah kaca. Kita masih harus membentuk pengertian kita mengenai mekanisme alami yang menjadi kunci dari mekanisme iklim, termasuk juga perubahan iradiasi matahari, untuk mengurangi ketidakpastian dalam proyeksi kita dalam perubahan iklim di masa datang.
Sebagai tambahan selain perubahan energi dari matahari sendiri, posisi bumi dan orientasi relatif terhadap matahari (orbit kita) juga sedikit bervariasi, sehingga membawa kita lebih dekat atau lebih jauh dari matahari dengan siklus yang dapat diduga (disebut siklus Milankovitch). Variasi dari siklus-siklus ini dipercaya menjadi penyebab terjadinya jaman es di bumi. Yang paling penting untuk terjadinya pembekuan (glasial) ada penerimaan radiasi di lintang utara bagian atas.
Berkurangnya radiasi di bagian ini pada bulan-bulan musim panas menyebabkan salju dan es tetap tertutup sepanjang tahun, sehingga pada akhirnya menyebabkan timbulnya es yang permanen – atau batu es. Meskipun siklus Milankovitch merupakan sesuatu yang sangat berharga sebagai suatu teori yang menjelaskan terjadinya jaman es dan perubahan jangka panjang pada iklim, siklus ini hampir tidak mungkin memiliki dampak yang lebih jauh pada siklus waktu sepanjang dekade atau abad. Sepanjang beberapa abad, mungkin kita bisa mengamati efek dari parameter orbital semacam ini, hamun untuk memprediksi perubahan iklim pada abad 21, perubahan ini akan jauh lebih tidak penting daripada kekuatan radiasi dari gas yang berasal dari efek rumah kaca.

Apa yang akan terjadi di masa depan?

Karena adanya berbagai kompleksitas di atmosfer, alat yang paling berguna untuk mengukur perubahan di masa depan adalah ‘model iklim.’ Ini adalah model yang dibuat di komputer berdasarkan hitungan matematis yang merupakan simulasi, dalam tiga dimensi, perilaku iklim, komponen serta interaksinya. Model iklim juga terus menerus diperbaiki berdasarkan pemahaman kita serta peningkatan kecanggihan alat komputer, meskipun secara definisi, sebuah model komputer adalah suatu simplifikasi dan simulasi dari keadaan nyata, yang artinya bahwa model tersebut merupakan kalkulasi secara kasar dari sistem iklim nyata. Langkah pertama dalam membuat model proyeksi dari perubahan iklim adalah dengan mula-mula melakukan simulasi tentang iklim saat ini dan membandingkannya dengan pengamatan.
Bila model ini dianggap cukup baik untuk mewakili iklim modern, kemudian beberapa parameter tertentu diubah, seperti konsentrasi gas rumah kaca, yang akan membantu kita memahami bahwa iklim akan berubah sebagai respons dari perubahan tersebut. Oleh karena itu, proyeksi perubahan iklim masa depan sangat bergantung pada sebaik apa model iklim komputer tersebut mensimulasikan iklim dan pada pemahaman kita mengenai mana fungsi-fungsi pendorong yang akan berubah di masa datang.
Laporan Khusus IPCC mengenai Skenario Emisi menentukan jumlah gas rumah kaca yang mungkin akan terbentuk (dan pendorong lainnya) berdasarkan pertimbangan-pertimbangan lain seperti pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, efisiensi energi dan sejumlah faktor lainnya. Laporan ini mengungkapkan sejumlah skenario pendorong yang cakupannya cukup luas, dan akibatnya menghasilkan iklim masa datang dengan berbagai variasi yang luas.
Berdasarkan tingkat pendorong yang ada dalam skenario terserbut, dan dengan menghitung ketidakpastian yang terjadi dalam kinerja model iklim, IPCC meramalkan peningkatan suhu secara global sebesar 1,4 -5,8°C dari tahun 1990-2100. Namun demikian, angka rata-rata secara global ini akan dikombinasikan dengan berbagai response regional yang sangat bervariasi, seperti kemungkinan apakah wilayah daratan akan lebih cepat memanas dibandingkan dengan suhu lautan, terutama wilayah daratan yang berada di garis lintang utara bagian atas (dan sebagian besar terjadi di musim dingin).
Curah hujan juga diramalkan akan mengalami peningkatan sepanjang abad 21, terutama pada garis lintang utara bagian tengah, meskpun tren ini mungkin lebih bervariasi di daerah tropis.
Lapisan dan lautan es juga diramalkan akan terus mengalami penurunan di wilayah kutub utara, dan sungai es serta puncak-puncak gunung es diramalkan akan terus menurun. (WM)

Tidak ada komentar: